Solidaritas Ramadan di Liga Prancis: Pura-Pura Cedera, Kiper Bantu Rekan Berbuka Puasa

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah insiden tak biasa namun penuh solidaritas terjadi di kancah sepak bola Liga Prancis, yang kembali menyoroti kebijakan ketat terkait ibadah Ramadan. Kiper FC Nantes, Anthony Lopes, berpura-pura mengalami cedera hamstring saat pertandingan penting melawan Le Havre AC.

Tindakan ini dilakukan pada menit ke-74 pertandingan, Jumat, 22 Februari 2026, dengan tujuan memberikan kesempatan kepada rekan-rekan setimnya yang Muslim untuk berbuka puasa saat matahari terbenam.

Langkah Lopes ini menjadi sorotan karena Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) memiliki aturan tegas yang melarang penghentian pertandingan untuk alasan keagamaan, berbeda dengan liga-liga besar Eropa lainnya.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stade de la Beaujoire tersebut, FC Nantes berhasil meraih kemenangan 2-0 atas Le Havre AC. Kemenangan ini sangat krusial bagi Nantes, mengangkat posisi mereka di klasemen Ligue 1. Namun, lebih dari sekadar hasil pertandingan, aksi Lopes ini menjadi simbol persaudaraan dan dukungan di dalam tim.

Aksi Cerdik di Lapangan Hijau

Pada menit ke-74 pertandingan, Anthony Lopes, kiper berusia 35 tahun berkebangsaan Portugal, tiba-tiba terjatuh sambil memegangi paha kirinya, mengindikasikan cedera hamstring. Sinyal dari Lopes segera direspons tim medis yang bergegas masuk ke lapangan, menyebabkan pertandingan terhenti sementara.

Selama jeda singkat tersebut, beberapa pemain Muslim dari FC Nantes terlihat bergegas menuju pinggir lapangan. Mereka memanfaatkan momen berharga itu untuk mengonsumsi air dan kurma, membatalkan puasa Ramadan mereka tepat pada waktunya. Setelah rekan-rekan setimnya selesai berbuka puasa, Lopes bangkit dan melanjutkan pertandingan tanpa menunjukkan tanda-tanda cedera serius, yang semakin memperjelas motif di balik aksinya.

Tindakan Lopes ini menuai banyak pujian dari para penggemar dan komunitas sepak bola global. Banyak yang mengapresiasi kesadaran dan kecerdikan Lopes dalam mendukung rekan setimnya, terutama mengingat kebijakan FFF yang tidak mengakomodasi jeda khusus untuk berbuka puasa.

Kontroversi Aturan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF)

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) secara konsisten menolak untuk mengizinkan wasit menghentikan pertandingan agar pemain dapat berbuka puasa. Sikap ini didasarkan pada prinsip netralitas agama atau laicite, yang merupakan pilar konstitusi Prancis. Pasal 1 statuta FFF secara eksplisit melarang segala bentuk ekspresi atau tampilan afiliasi politik, filosofis, agama, atau serikat pekerja selama kompetisi.

Pada Maret 2023, FFF bahkan mengirimkan email kepada para wasit yang menegaskan bahwa penghentian pertandingan untuk berbuka puasa bertentangan dengan prinsip netralitas. Kebijakan ini telah memicu kritik tajam, dengan beberapa pihak menuduhnya sebagai diskriminasi anti-Muslim. Namun, Presiden FFF, Philippe Diallo, membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa tidak ada larangan berpuasa dan pemain yang berpuasa tetap ditawarkan saran medis.

Sikap FFF ini bukan kali pertama menimbulkan kontroversi. Pada tahun 2023, bek Nantes, Jaouen Hadjam, sempat dikeluarkan dari skuad pertandingan karena memilih untuk berpuasa selama Ramadan. Insiden ini menunjukkan konsistensi FFF dalam menerapkan aturannya, meskipun seringkali berbenturan dengan praktik keagamaan para pemain.

Perbandingan dengan Liga Eropa Lain dan Reaksi Publik

Berbeda dengan FFF, liga-liga besar Eropa lainnya seperti Premier League di Inggris, Bundesliga di Jerman, dan Eredivisie di Belanda telah mengizinkan penghentian singkat pertandingan agar pemain Muslim dapat berbuka puasa ramadan. Premier League bahkan telah menerapkan kesepakatan ini sejak tahun 2021.

Prosedur di liga-liga tersebut melibatkan diskusi antara kapten tim dan wasit sebelum pertandingan untuk menentukan momen alami penghentian permainan, seperti tendangan gawang atau lemparan ke dalam, guna memberikan kesempatan berbuka puasa. Hal ini menunjukkan pendekatan yang lebih fleksibel dan akomodatif terhadap kebutuhan religius para pemain.

Aksi solidaritas Lopes ini kembali memicu diskusi publik yang lebih luas mengenai kebijakan FFF. Banyak politisi, pelatih, dan mantan pemain turut mengkritik sikap federasi. Para penggemar Paris Saint-Germain juga telah menyuarakan protes terhadap kebijakan FFF, menunjukkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian serius di kalangan pecinta sepak bola Prancis dan internasional.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |