Tanaman 'Ajaib' Banyak Ditemukan di RI, Diam-Diam Jadi Incaran Asing

3 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

15 May 2026 15:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Daun belimbing yang selama ini lebih dikenal sebagai pelengkap ramuan tradisional mulai masuk pasar ekspor dengan lonjakan yang tak biasa. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor daun belimbing Indonesia melonjak tajam sepanjang 2024, didorong permintaan baru dari Republik Dominika.

Negara di kawasan Karibia itu tiba-tiba muncul sebagai pembeli terbesar daun belimbing asal Indonesia. Sepanjang 2024, Republik Dominika mengimpor sekitar 6.000 kilogram dengan nilai mencapai US$52.900. Pada periode 2019-2023, nyaris tidak ada pengiriman ke negara tersebut.

Lonjakan pembelian itu mengangkat total ekspor daun belimbing Indonesia ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. BPS mencatat nilai ekspor daun belimbing mencapai US$62.576 dengan volume 8.769 kilogram pada 2024. Tahun sebelumnya, nilainya baru US$5.400 dengan volume 2.125 kilogram.

Artinya, nilai ekspor naik lebih dari 1.000% hanya dalam setahun. Kenaikan volume juga menunjukkan perdagangan ini bukan transaksi kecil satu kali, melainkan mulai terbentuknya permintaan pasar yang lebih stabil.

Jika ditarik ke belakang, perdagangan daun belimbing sebenarnya sempat tenggelam cukup lama. Pada 2019, ekspor tercatat US$1.728 dengan volume 568 kilogram. Angkanya turun lagi menjadi US$572 pada 2021 dengan volume hanya 152 kilogram. Pemulihan mulai terlihat pada 2022 dan 2023, meski skalanya masih terbatas.

Perubahan pada 2024 muncul saat pasar herbal global berkembang cepat. Konsumen di banyak negara mulai mencari bahan alami untuk suplemen, teh herbal, hingga campuran produk kesehatan. Daun belimbing ikut masuk dalam tren tersebut karena dikenal memiliki kandungan antioksidan dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional.

Permintaan dari Republik Dominika juga memperlihatkan perubahan arah pasar ekspor Indonesia. Selama ini produk herbal Indonesia lebih banyak masuk ke negara Asia atau Timur Tengah. Kini pasar nontradisional di Karibia mulai membuka permintaan baru untuk bahan baku tropis.

Kondisi ini memberi peluang bagi industri herbal domestik, terutama petani dan pelaku usaha kecil yang selama ini belum banyak tersentuh pasar ekspor. Jika permintaan terus berlanjut, daun belimbing dapat berkembang menjadi komoditas niche dengan nilai tambah lebih tinggi dibanding penjualan bahan mentah biasa.

Meski begitu, tantangan terbesar tetap ada pada konsistensi pasokan dan standar kualitas. Pasar herbal global cenderung ketat dalam urusan keamanan produk, residu pestisida, hingga ketelusuran bahan baku. Ketika permintaan mulai tumbuh, kemampuan menjaga mutu akan menentukan apakah Indonesia bisa mempertahankan pasar ini atau justru kehilangan momentum.

Di saat yang sama, peluang ekspansi masih terbuka lebar. Kawasan Amerika Latin dan Karibia mulai aktif mencari bahan herbal dari Asia Tenggara

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |