Amalia Zahira, CNBC Indonesia
26 February 2026 20:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena penurunan muka tanah atau land subsidence ternyata bukan hanya ancaman bagi kota pesisir di negara berkembang.
Studi terbaru menunjukkan sejumlah kota besar di Amerika Serikat kini juga mengalami amblesan tanah yang berpotensi meningkatkan risiko banjir, kerusakan infrastruktur, hingga kerugian ekonomi jangka panjang.
Sekitar 25 dari 28 kota besar utama di Amerika Serikat mengalami penurunan permukaan tanah (land subsidence), yang menciptakan risiko properti tersembunyi namun terus meningkat.
Houston, Fort Worth, Dallas, New York, dan Chicago semuanya mengalami penurunan tanah dengan laju lebih dari 2 mm per tahun.
Banyak kota besar lainnya, termasuk Seattle, Detroit, dan Denver, mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju antara 1,5 hingga 2,0 mm per tahun.
Bahkan penurunan yang lambat pada skala milimeter sekalipun dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur jangka panjang serta menimbulkan tantangan dalam aspek asuransi.
Data Visual Capitalist terbaru menunjukkan kota-kota besar seperti Houston, Dallas, Fort Worth, New York, hingga Chicago mengalami penurunan tanah lebih dari sekitar 2 millimeter per tahun. Meski terlihat kecil, penurunan bertahap ini dapat memperburuk risiko banjir dan kerusakan bangunan jika terjadi terus-menerus.
Kota Besar Padat Penduduk Ikut Terdampak
Penelitian berbasis radar satelit menemukan bahwa 28 kota terpadat di Amerika Serikat mengalami penurunan tanah dalam berbagai tingkat. New York, Chicago, Los Angeles, Houston, Phoenix, Philadelphia, San Antonio, dan Dallas bahkan dihuni lebih dari 60% populasi yang tinggal di wilayah terdampak subsiden.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah pesisir. Beberapa kota pedalaman juga mengalami amblesan akibat faktor urbanisasi, pembangunan masif, dan eksploitasi sumber daya alam.
Para peneliti menilai penyebab utama penurunan tanah di kota-kota AS adalah aktivitas manusia, terutama:
-
Pengambilan air tanah berlebihan
-
Ekstraksi minyak dan gas
-
Beban bangunan tinggi dan urbanisasi
-
Perubahan geologi alami
Faktor-faktor ini dapat membuat tanah memadat dan turun secara perlahan, meningkatkan risiko kerusakan pondasi bangunan dan sistem transportasi.
Dampak Ekonomi dan Infrastruktur
Amblesan tanah tidak hanya isu lingkungan, tetapi juga ekonomi. Penurunan topografi kota dapat meningkatkan frekuensi banjir, merusak jalan, rel kereta, jembatan, hingga jaringan utilitas vital.
Sejak tahun 2000, sejumlah kota besar yang mengalami subsiden juga mencatat puluhan kejadian banjir signifikan, sebagian dipicu kombinasi amblesan tanah dan perubahan iklim.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya adaptasi kota, premi asuransi properti, hingga beban fiskal pemerintah daerah.
Para ilmuwan merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi untuk menekan risiko amblesan tanah, mulai dari pengetatan pengelolaan air tanah, perencanaan tata ruang berbasis risiko iklim, hingga pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap potensi banjir.
Selain itu, pemantauan atau monitoring berbasis satelit secara berkelanjutan dinilai penting untuk mendeteksi penurunan tanah sejak dini. Tanpa langkah mitigasi yang serius, amblesan tanah berpotensi menjadi ancaman ekonomi besar bagi kota modern.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

9 hours ago
3
















































