Ekonomi AS Kini Berubah dari "K-Shaped Economy" ke "E-Shape", Kenapa?

6 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Gambaran ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2026 semakin sulit dijelaskan hanya sebagai "baik" atau "buruk". Data ekonomi menunjukkan kondisi relatif sehat, namun banyak konsumen justru merasa kondisi keuangan mereka semakin tertekan.

Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, Heather Long, menyebut pola ekonomi yang sebelumnya dikenal sebagai "K-shaped economy" kini mulai berubah menjadi "E-shaped economy" pada 2026. 

K-shaped economy adalah istilah dalam ekonomi yang menggambarkan pemulihan ekonomi yang tidak merata, di mana sebagian sektor atau kelompok masyarakat pulih dengan cepat sementara sebagian lainnya justru semakin turun sedangkan E-shaped adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pola pemulihan ekonomi yang sangat timpang, di mana ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin semakin melebar secara tajam setelah krisis.

Lalu apa saja buktinya? Berikut data CNBC International, Senin (9/3/2026).

Inflasi Turun, Tapi Harga Tetap Tinggi

Menurut data statistik pekerja AS, inflasi yang diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) sempat mencapai sekitar 9% pada Juni 2022, sebelum turun dan stabil di kisaran 3% sejak pertengahan 2023. Namun, menurut data lembaga statistik ekonomi, indikator Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE Price Index/indikator inflasi yang mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga) berada di sekitar 2,9% pada akhir 2025.

Meski inflasi melandai, banyak harga barang masih jauh lebih mahal dibandingkan tahun 2020. Dalam waktu yang sama, kenaikan upah riil relatif stagnan, menurut riset dari The Hamilton Project.

Akibatnya, sentimen konsumen menurun. Survei University of Michigan menunjukkan kepercayaan konsumen turun hampir 13% secara tahunan hingga Februari 2026.

Kelompok Kaya Tetap Jadi Motor Konsumsi

Dalam struktur E-shaped economy, kelompok pendapatan tertinggi masih menjadi pendorong utama konsumsi. Analisis dari Moody's Analytics menunjukkan 20% rumah tangga dengan pendapatan tertinggi menyumbang hampir 60% total belanja konsumen di AS.

Kelompok ini tetap berbelanja meskipun harga meningkat. Bahkan, banyak perusahaan mulai memperkuat produk premium untuk menarik konsumen kaya.

Contohnya, kartu kredit premium seperti Chase Sapphire Reserve dan American Express Platinum Card menaikkan biaya tahunan masing-masing menjadi sekitar US$795 dan US$895. Langkah ini menargetkan konsumen berpendapatan tinggi yang tetap memiliki daya beli kuat.

Kelas Menengah Bertahan, Tapi Mulai Tertekan

Berbeda dengan kelompok kaya, kelas menengah mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan ekonomi. Heather Long menyebut kelompok ini sebagai "Costco economy", yaitu konsumen yang semakin sering mencari harga lebih murah di toko diskon atau grosir seperti Costco dan Walmart.

Mereka masih mampu membayar kebutuhan dasar. Namun harus lebih berhati-hati dalam pengeluaran.

"Kelas menengah sekarang belanja dengan cara yang cemas. Mereka mencoba memaksimalkan setiap dolar dengan membeli dalam jumlah besar atau mencari harga paling murah," kata Long.

Data dari Bank of America menunjukkan sekitar 24% rumah tangga pada 2025 hidup dari gaji ke gaji. Biaya kebutuhan pokok menghabiskan lebih dari 95% pendapatan mereka.

Kelompok Bawah Semakin Bergantung pada Utang

Kelompok pendapatan rendah menjadi lapisan terbawah dalam pola E-shaped economy. Mereka semakin bergantung pada kartu kredit serta layanan cicilan Buy Now, Pay Later (BNPL) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Survei bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed/Fed) menunjukkan 59% pemegang kartu kredit dengan pendapatan US$25.000-US$49.999 pernah membawa saldo utang dari bulan ke bulan. Selain itu, survei LendingTree menemukan 25% pengguna BNPL pada 2025 menggunakan layanan tersebut untuk membeli bahan makanan, naik dari 14% pada 2024.

Harapan dari Pengembalian Pajak

Musim pajak 2026 diperkirakan memberi sedikit ruang napas bagi rumah tangga kelas menengah dan bawah. Survei Intuit TurboTax menunjukkan sekitar 35% warga Amerika yang menerima pengembalian pajak berencana menggunakan dana tersebut untuk membayar utang.

Namun para ekonom menilai langkah itu hanya solusi sementara. "Kembalian pajak bisa membantu untuk sementara, tetapi tidak menyelesaikan masalah keterjangkauan yang terus berlangsung," kata Long.

(sef/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |