Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri mebel dan kerajinan Indonesia. Sektor ini dinilai berpotensi terdampak dari sisi logistik, terutama jika jalur pelayaran global mengalami gangguan.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Abdul Sobur mengatakan dampak paling nyata yang dikhawatirkan pelaku usaha adalah gangguan pada jadwal pengiriman barang ke pasar ekspor.
"Kalau konflik memanas dan jalur pelayaran terganggu, dampak pertama yang kami rasakan adalah disrupsi jadwal pengiriman. Lead time pengiriman bisa memanjang dan menjadi tidak pasti," kata Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (9/3/2026).
Ketepatan waktu pengiriman merupakan faktor krusial dalam industri mebel, terutama untuk pembeli ritel besar di pasar global.
"Buyer ritel besar sangat sensitif terhadap on-time delivery. Kalau pengiriman terlambat, eksportir bisa terkena penalti atau chargeback dari pembeli," ujarnya.
Selain masalah jadwal pengiriman, industri juga berpotensi menghadapi lonjakan biaya logistik akibat meningkatnya risiko kawasan konflik.
"Biasanya ketika kawasan tertentu dianggap berisiko, biaya freight bisa naik cepat. Ditambah lagi premi asuransi war risk yang ikut melonjak," jelas Sobur.
Foto: Sebuah ruang kelas yang dipenuhi puing-puing dan gambar-gambar anak-anak yang berserakan terlihat di sebuah sekolah di Teheran, Iran, pada Selasa (3/3/2026), setelah bangunan tersebut rusak akibat serangan pada hari pertama perang. (Tangkapan Layar Video Reuters/WANA)
Sebuah ruang kelas yang dipenuhi puing-puing dan gambar-gambar anak-anak yang berserakan terlihat di sebuah sekolah di Teheran, Iran, pada Selasa (3/3/2026), setelah bangunan tersebut rusak akibat serangan pada hari pertama perang. (Tangkapan Layar Video Reuters/WANA)
Konflik di kawasan tersebut juga berpotensi memicu kenaikan harga energi global yang pada akhirnya mendorong biaya produksi dan distribusi.
"Ketika harga minyak naik karena konflik, otomatis biaya energi untuk produksi dan logistik ikut terdorong," kata dia.
Sejumlah kajian industri memperkirakan biaya pengiriman bisa meningkat signifikan apabila kapal harus mengubah rute pelayaran untuk menghindari wilayah berisiko.
"Jika kapal harus memutar rute atau menghadapi risiko keamanan lebih tinggi, biaya shipping bisa naik sekitar 50% sampai 80% pada beberapa jalur," jelasnya.
Dampak kenaikan biaya tersebut juga dipengaruhi oleh skema kontrak perdagangan yang digunakan eksportir.
"Kalau kontraknya FOB (free on board), freight biasanya ditanggung buyer. Tapi pada praktiknya tetap ada tekanan harga karena buyer sering meminta diskon untuk mengompensasi biaya pengiriman yang naik," kata Sobur.
Sebaliknya, jika kontrak menggunakan skema CIF (Cost, Insurance, and Freight) atau CFR (Cost and Freight), eksportir harus menanggung biaya logistik lebih dulu sebelum membebankannya kembali kepada pembeli.
"Kalau tidak ada penyesuaian harga atau surcharge, margin eksportir bisa langsung tergerus oleh kenaikan freight," ujarnya.
Meski demikian, pola yang biasanya muncul pada tahap awal konflik bukanlah pembatalan pesanan secara langsung.
"Biasanya buyer tidak langsung membatalkan order. Yang terjadi lebih sering adalah penundaan pengiriman atau shipment di-hold sementara sambil menunggu kepastian jadwal kapal dan biaya logistik," kata Sobur.
Meski mendapat Bertubi-tubi tantangan di lapangan, pelaku usaha menargetkan ekspor furnitur Indonesia dapat meningkat secara bertahap hingga mencapai US$6 miliar pada tahun 2030, dengan pameran mebel seperti IFEX sebagai salah satu mesin utama promosi dan ekspansi pasar global.
(fys/wur)
Addsource on Google

6 hours ago
5
















































