Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus infeksi Hantavirus menjadi perhatian dunia. Virus ini dikenal berbahaya karena menyebabkan gangguan pernapasan serius yang menyebabkan kematian.
Virus ini juga ditularkan terutama melalui hewan pengerat seperti tikus. Penularan pada manusia dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terpapar virus. Lalu apakah penyakit ini sudah ada vaksinnya?
Virus ini belum ada obat ataupun vaksinnya, tapi pemerintah Inggris telah menugaskan para peneliti untuk mengembangkan vaksin hantavirus pertama di dunia.
Wabah yang menyerang penumpang kapal pesiar berbendera Belanda MV Hondius ini disebabkan oleh virus Andes, salah satu strain dalam kelompok hantavirus yang lebih luas.
Para peneliti di Universitas Bath di Inggris telah mengerjakan vaksin mRNA baru untuk strain hantavirus lain yang disebut Hantaan, sebelum wabah itu terjadi. Tim peneliti mengatakan bahwa vaksin ini baru, dan uji laboratorium pada hewan telah menunjukkan hasil yang menjanjikan.
"Ini adalah antigen yang benar-benar baru, dan menunjukkan imunogenisitas yang sangat baik terhadap penyakit hantaan dan kami berharap ini akan menjadi antigen yang baik untuk digunakan dalam memprodiksi vaksin virus hantaan di masa depan," kata Seorang ahli kimia di Universitas Bath dan CEO EnsiliTech, Asel Sartbaeva, mengutip Euronews, Sabtu (16/5/2026).
Pertanyaannya sekarang adalah apakah teknologi vaksin yang sama pada akhirnya dapat membantu melawan strain Andes yang mewabah di kapal pesiar?
"Saat ini kami belum tahu apakah antigen yang telah kami kembangkan akan berguna melawan (strain) Andes. Kami berharap demikian, tetapi jelas, sampai kami benar-benar mengujinya terhadap virus Andes, kami tidak akan tahu," kata Sartbaeva.
Pada 2024, pemerintah Inggris memberikan kontrak kepada tim peneliti untuk mengembangkan vaksin mRNA stabil termal pertama di dunia untuk melawan virus hantaan. Vaksin ini menggunakan teknologi baru yang disebut ensilikasi, yang memungkinkan vaksin tersebut dibawa di suhu yang lebih tinggi dari biasanya. Hal ini bisa menjadi signifikan bagi vaksin mRNA yang saat ini perlu disimpan di suhu beku.
"Ini adalah teknologi yang dapat diterapkan pada banyak vaksin yang berbeda, dan dalam kasus ini, kami menerapkan pada vaksin virus hantaan yang baru ini," kata Sartbaeva.
"Kami telah berhasil memindahkannya dari freezer -70 derajat Celcius ke lemari es dengan suhu 2 hingga 8 derajat Celcius, yang membuatnya jauh lebih mudah untuk dibawa. Dan harapan kami tentu saja adalah untuk membuatnya stabil secara termal untuk transportasi suhu ruangan di masa mendatang," tambahnya.
Hingga Selasa (12/5/2026), WHO telah mengidentifikasi 11 kasus, sembilan di antaranya terkonfirmasi virus, dan tiga mengalami kematian. Semuanya merupakan penumpang di kapal tersebut.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

6 hours ago
2
















































