Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
16 May 2026 20:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan konsumsi anak muda di Amerika Serikat (AS) mulai berubah. Penggunaan ganja secara harian kini sudah melampaui konsumsi alkohol harian di kalangan anak-anak muda AS.
Mengutip Visual Capitalist, data yang dipublikasikan dalam jurnal Addiction menunjukkan tren penggunaan ganja dan alkohol harian pada warga AS usia 19-30 tahun sejak 1988 hingga 2024.
Data tersebut memperlihatkan perubahan besar. Selama bertahun-tahun, alkohol lebih banyak dikonsumsi secara harian dibandingkan ganja. Namun, kondisi itu berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan ini terjadi karena masyarakat AS semakin menganggap penggunaan ganja sebagai hal yang biasa. Selain itu, legalisasi ganja di banyak negara bagian AS juga membuat penggunaannya semakin umum.
Penggunaan Ganja Harian Melonjak
Penggunaan ganja harian di kalangan warga AS usia 19-30 tahun naik tajam dalam tiga dekade terakhir.
Pada 1988, penggunaan ganja harian tercatat sebesar 3,3%. Angkanya sempat turun ke 2,4% pada 1992. Namun setelah itu, tren penggunaannya terus meningkat.
Kenaikan makin terlihat setelah 2010. Pada 2014, penggunaan ganja harian sudah mencapai 7,1%. Angka ini terus naik hingga mencapai 11,2% pada 2021 dan 2022.
Pada 2023 dan 2024, angkanya sedikit turun, tetapi masih tinggi di level 10,8%. Artinya, sekitar 1 dari 10 anak muda AS dalam kelompok usia tersebut menggunakan ganja setiap hari.
Studi tersebut menemukan penggunaan ganja setiap hari atau hampir setiap hari naik 15 kali lipat antara 1992 hingga 2022. Sebaliknya, konsumsi alkohol harian relatif lebih stabil dalam periode yang sama.
Salah satu faktor pendorongnya adalah legalisasi. Ganja rekreasional kini sudah legal di banyak wilayah AS. Sementara itu, program ganja medis juga semakin luas.
Perubahan aturan tersebut membuat ganja semakin diterima oleh masyarakat. Industri ganja legal di AS pun ikut berkembang dan menjadi bisnis bernilai miliaran dolar AS.
Konsumsi Alkohol Harian Justru Menurun
Berbeda dengan ganja, konsumsi alkohol harian di kalangan anak muda AS cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 1988, konsumsi alkohol harian warga AS usia 19-30 tahun tercatat sebesar 6,6%. Angka ini masih naik-turun dalam beberapa dekade berikutnya.
Konsumsi alkohol harian sempat berada di level 6,3% pada 2009. Namun setelah itu, arahnya mulai menurun, terutama setelah 2020.
Pada 2024, konsumsi alkohol harian turun ke 3,1%. Ini menjadi level terendah dalam data 1988-2024.
Meski alkohol masih lebih banyak dikonsumsi secara umum, data ini menunjukkan pola yang berbeda. Pengguna ganja kini lebih cenderung mengonsumsinya setiap hari atau hampir setiap hari, terutama di kalangan warga berusia di bawah 30 tahun.
Ganja mulai menjadi konsumsi yang lebih rutin bagi sebagian anak muda AS, sementara konsumsi alkohol harian justru melemah.
Anak Muda Makin Menganggap Ganja Lebih Aman
Pandangan anak muda terhadap ganja juga berubah cukup besar. Artikel UC San Diego Today yang menyebut remaja semakin melihat ganja sebagai zat yang tidak seberbahaya alkohol, rokok, atau vape nikotin.
Para peneliti mencatat persepsi risiko terhadap ganja cenderung menurun seiring bertambahnya usia siswa. Penurunan ini paling terlihat pada siswa kelas 12.
Kondisi tersebut ikut menjelaskan mengapa penggunaan ganja semakin normal di kalangan anak muda AS. Pola konsumsinya bahkan mulai mirip dengan kebiasaan merokok, bukan seperti alkohol yang biasanya dikonsumsi sesekali.
Menurut peneliti Carnegie Mellon, Jonathan Caulkins, sekitar 40% pengguna ganja saat ini mengonsumsinya setiap hari atau hampir setiap hari.
Tetap Ada Risiko Kesehatan
Meski semakin diterima, ganja tetap memiliki risiko kesehatan.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC mencatat penggunaan ganja secara rutin dapat memicu ketergantungan, gangguan kemampuan berpikir, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada sebagian pengguna.
Sementara itu, konsumsi alkohol berat juga masih berkaitan erat dengan penyakit hati, gangguan jantung, dan kematian akibat kecelakaan berkendara dalam kondisi mabuk.
Sebagian ahli menilai ganja mungkin memiliki risiko overdosis dan kecelakaan yang lebih rendah dibandingkan alkohol. Namun, para peneliti menegaskan bahwa membandingkan keduanya tidak mudah, karena ganja dan alkohol bekerja dengan cara yang berbeda di dalam tubuh.
Yang jelas, hubungan masyarakat AS dengan ganja sudah berubah besar. Penggunaan ganja harian kini bukan lagi kebiasaan yang dianggap pinggiran, terutama di kalangan anak muda.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

8 hours ago
3















































