Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melonjak hampir 3% setelah adanya aksi beli besar-besaran saat harga turun usai koreksi awal pekan ini. Investor mencari tanda-tanda meredanya konflik di Timur Tengah.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Jumat (27/3/2026) ditutup di posisi US$ 4.492,48 per troy ons. Harganya terbang 2,6%.
Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 2,8% pada Kamis (26/3/2026). Kenaikan kemarin juga memperpanjang jungkir balik harga emas pekan ini.
Pada Senin harganya jatuh 1,8% tetapi melonjak 1,5% pada Selasa dan menanjak 0,7% pada Rabu. Harganya ambruk pada Kamis dan melesat lagi pada Jumat.
Sepanjang pekan lalu, harga emas menguat 0,11%. Penguatan ini memutus pelemahan selama tiga pekan beruntun sebelumnya.
"Penurunan harga baru-baru ini menciptakan peluang yang sangat baik karena pasar sempat terkoreksi... harga turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari... ini adalah waktu yang luar biasa untuk membeli emas," kata Daniel Pavilonis, analis strategi pasar senior di RJO Futures, dikutip dari Reuters.
Emas spot sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di $4.097,99 pada Senin.
"Kita akan melihat kenaikan bertahap dalam beberapa minggu ke depan. Dan jika situasi Iran ini bisa mereda, maka ada peluang besar bagi pasar untuk kembali mengambil risiko," tambah Pavilonis.
Harga minyak tetap bertahan di atas $110 per barel meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, setelah Teheran menolak proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri konflik.
Perang yang kini memasuki minggu keempat telah meluas di Timur Tengah, menghantam ekonomi global dengan lonjakan harga energi dan pupuk yang memicu kekhawatiran inflasi.
Kenaikan inflasi telah mengubah prospek kebijakan The Federal Reserve menuju kemungkinan kenaikan suku bunga, yang biasanya menekan emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil tersebut.
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini sepenuhnya menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga AS pada 2026. Pelaku pasar sebelumnya memperkirakan dua kali pemangkasan sebelum perang dimulai.
Namun, Commerzbank menaikkan proyeksi harga emasnya, dengan target akhir tahun menjadi $5.000 per ons dari sebelumnya $4.900, dengan alasan bahwa koreksi terbaru kemungkinan tidak akan bertahan lama.
Bank tersebut memperkirakan perang Iran akan berakhir pada musim semi, yang dapat meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga AS saat ini. Mereka melihat The Fed akan kembali memangkas suku bunga di akhir tahun ini, dengan total penurunan sekitar 75 basis poin hingga pertengahan tahun depan.
"Kebutuhan likuiditas awal telah terpenuhi, dan sekarang emas bisa kembali bergerak. Investor cerdas memanfaatkan penurunan harga sebagai peluang untuk menambah posisi," kata Nitesh Shah, analis komoditas di WisdomTree.
Harga emas yang lebih rendah juga menarik minat beli di India minggu ini, sementara cadangan emas bank sentral Turki mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Agustus 2018 akibat dampak konflik tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

5 hours ago
2
















































