Hari Ini Arah Ekonomi Dibedah, Kebijakan IHSG-Rupiah Dibuka Terang

3 hours ago 5
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup mayoritas positif, IHSG dan rupiah menguat sementara 
  • Wall Street kompak menguat
  • Rilis data penjualan eceran serta komentar regulator mengenai arah kebijakan industri keuangan Indonesia di CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 akan menjadi penggerak utama pergerakan pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan hari Senin (9/2/2026). Pasar saham dan rupiah menguat sementara imbal hasil SBN sedikit mengalami kenaikan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan volatile pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia dan proyeksi beberapa hari ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini serta live CNBC Indonesia Economic Outlook 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lompat 96,61 poin atau melesat 1,22% pada akhir perdagangan kemarin, Senin (9/2/2026). Indeks berakhir terapresiasi ke level 8,031,87.

Sebanyak 433 saham naik, 252 turun, dan 136 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 17,75 triliun, melibatkan 40,54 miliar saham dalam 2,27 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 14.567 triliun.

Mayoritas sektor perdagangan menguat kemarin, dengan apresiasi terbesar dibukukan oleh sektor energi, barang baku dan properti. Adapun hanya sektor kesehatan dan finansial yang tertekan kemarin.

Saham-saham konglomerat tercatat menjadi penopang kinerja IHSG kemarin, dengan kontribusi indeks poin paling besar disumbang oleh emiten tambang batu bara Grup Sinar Mas (DSSA), disusul oleh tambang emas Grup Saratoga (EMAS) dan tambang emas Grup Bakrie (BRMS).

MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk), BUVA (Bukit Uluwatu Villa Tbk), BUMI (Bumi Resources Tbk), PANI (Pantai Indah Kapuk Dua Tbk), dan AMRT (Sumber Alfaria Trijaya Tbk)

Emiten lain yang menguat signifikan dan ikut menjadi penopang IHSG termasuk DCII, AMMN PT Amman Mineral Internasional Tbk, MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk), BUVA (Bukit Uluwatu Villa Tbk), BUMI (Bumi Resources Tbk), PANI (Pantai Indah Kapuk Dua Tbk), dan AMRT (Sumber Alfaria Trijaya Tbk)

Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) tercatat naik 15%, saham  PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATUR) naik 13%, PANI 10%, DSSA 9%, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) 8%, BRMS 7%, MDKA 7% dan BUMI 6%,

Sementara itu saham blue chip, khususnya sektor perbankan menjadi pemberat utama kinerja IHSG dengan Bank Central Asia (BBCA) menyumbang pelemahan terbesar ke IHSG kemarin.

Pelaku pasar keuangan akan menghadapi pekan yang padat dengan agenda rilis data ekonomi makro dari sejumlah negara ekonomi utama dunia. Sepanjang pekan ini, investor akan mencermati perkembangan indikator ekonomi dari Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan China yang dijadwalkan rilis secara berurutan.

Rangkaian data ini dinilai krusial karena akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi daya beli masyarakat, stabilitas harga, serta situasi pasar tenaga kerja yang menjadi landasan kebijakan bank sentral.

Lanjut ke kurs mata uang Garuda, nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/2/2026), seiring pelemahan dolar di pasar global.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menguat 0,39% ke posisi Rp16.795/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan tren rupiah yang sebelumnya melemah dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Sepanjang perdagangan, rupiah sejatinya sudah dibuka menguat tipis 0,03% di level Rp16.855/US$ sebelum terus menguat hingga penutupan. Rupiah bergerak dalam rentang Rp16.794-Rp16.870 per US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau berada di zona merah dengan koreksi 0,25% ke level 97,388. Pelemahan ini melanjutkan penurunan pada penutupan perdagangan sebelumnya, ketika DXY turun 0,20%.

Penguatan rupiah pada awal pekan ini ditopang sentimen eksternal seiring melemahnya dolar AS di pasar global. Tekanan pada dolar tercermin dari pergerakan DXY yang melemah, mengindikasikan pelaku pasar melakukan aksi jual pada aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang lain, termasuk Rupiah.

Dolar melemah jelang rangkaian rilis data penting ekonomi AS, mulai dari penjualan ritel, inflasi, hingga laporan tenaga kerja yang sebelumnya tertunda dan dijadwalkan keluar pada Rabu mendatang.

Di sisi lain, pasar juga mulai menambah taruhan pelonggaran kebijakan dari The Federal Reserve tahun ini. Kontrak Fed funds futures kini mencerminkan probabilitas 19,9% untuk pemangkasan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed 17-18 Maret, naik dari 18,4% pada Jumat, mengacu pada CME Group FedWatch Tool.

Sementara dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun mengalami kenaikan ke level 6,46% atau naik dari level sebelumnya pada hari Senin (9/2/2026) yang berakhir di level 6,44%. Kenaikan ini mencerminkan harga SBN yang tengah turun karena dijual investor. 

Kemarin imbal hasil SBN 10 tahun bergerak di level 6.444 - 6.464, sehingga dapat diartikan bahwa dalam waktu perdagangan, tekanan jual di pasar obligasi 10 tahun ini cukup kuat.

Kenaikan pada Senin (9/2/2026) merupakan kenaikan yang cukup signifikan hingga imbal hasil saat ini berada sama dengan level pada awal September 2025. 

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |