IHSG Tersungkur, Investasi Ini Mampu Memberikan Return Maksimal

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja buruk sepanjang tahun berjalan 2026, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ambruk nyaris 30%.

Penyebabnya adalah gejolak ekonomi akibat kebijakan tarif dagang Amerika Serikat yang menekan sejak tahun lalu ditambah perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran yang semakin memperburuk keadaan.

Belum lagi gonjang-ganjing akibat pandangan negatif MSCI terhadap pasar saham Indonesia juga berkontribusi terhadap pelemahan sepanjang 2026 membuat aliran modal asing turut keluar.
Berdasarkan data agregat pasar dari Bursa Efek Indonesia, nilai total net foreign outflow atau jual bersih asing telah menembus angka Rp53,71 triliun sepanjang YTD 2026.

Tekanan ini semakin terlihat di akhir Mei, di mana pada perdagangan tanggal 29 Mei 2026 saja terjadi aliran dana keluar hingga lebih dari Rp8,5 triliun. Derasnya arus keluar ini sangat membebani kondisi likuiditas pasar dan menggerus valuasi saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi mesin utama penopang pergerakan IHSG.

IHSG, sepanjang tahun 2026 hingga penutupan 29 Mei, IHSG telah terperosok sedalam -29,14% dan menjadi salah satu indeks yang memiliki kinerja buruk di dunia. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi paling bawah dalam jajaran indeks saham global utama yang dipantau.

Sebagai perbandingan langsung, bursa Amerika Serikat melalui indeks S&P 500 masih mampu mencetak kinerja positif sebesar +9,92% sejak akhir Desember 2025.

Tidak hanya itu, bursa dari kawasan Asia lainnya seperti indeks KOSPI (Korea Selatan) dan TWII (Taiwan) justru mencatatkan reli yang sangat signifikan, masing-masing 101,13% dan 55,83%. Bahkan negara tetangga Singapura indeks sahamnya mencatatkan raihan positif 8,22%.

Di tengah kondisi pasar saham yang lesu, mencari alternatif investasi yang termasuk risiko rendah guna mengamankan portofolio bisa menjadi strategi yang pas, apa saja?

Indesk Reksa Dana 30 Mei 2025Indesk Reksa Dana 30 Mei 2025 Foto: CNBC Indonesia

1. Reksa Dana Pasar Uang Konvensional atau Syariah

Reksa dana pasar uang konvensional dan syariah menunjukkan kinerja yang resilien dibandingkan dengan produk lainnya pada masa-masa penuh ketidakpastian saat ini.

Hal tersebut tercermin dari tingkat imbal hasil dari beberapa periode investasi yang menunjukkan hasil positif. Bahkan untuk imbal hasil lima tahun mencapai 3,65% hingga 3,9% dalam satu tahun.

Bahkan bisa mencapai 16% untuk kinerja lima tahun dan menjadi salah satu yang tertinggi dibandingkan produk lainnya.

2. Reksa Dana Pendapatan Tetap Konvensional atau Syariah

Selain itu, reksa dana pendapatan tetap baik konvensional maupun syariah juga menunjukkan imbal hasil yang cukup baik dengan kinerja imbal hasil 2,77% hingga 3,56% dalam satu tahun

3. Emas

Emas aset lindung nilai yang bisa menjadi salah satu pilihan menaruh modal di saat terjadi gejolak dunia. Saat ini harga emas relatif murah, Sejak mencapai US$5.326,82 per troy ons pada 2 Maret 2026, tren harga emas dunia melemah dan turun 14,85% hingga Jumat (29/5/2026) ditutup di US$4.535,82 per troy ons.

Sementara itu, riset dari Morgan Stanley mengatakan mempertahankan target harga emas di US$5.200 per troy ons di akhir tahun. Ahli strategi komoditas logam dan pertambangan di Morgan Stanley, Amy Gower mengatakan harga emas masih berpotensi mencapai US$5.200 per troy ons di akhir tahun ini.

4. Deposito

Deposito adalah investasi dengan risiko rendah karena mendapatkan bunga tetao yang ditentukan sejak awal. Instrumen ini juga tergolong sangat aman dari fluktuasi pasar dan dana nasabah dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan tingkat bunga penjaminan yang saat ini berada di level 3,50%.

Bank Rakyat Indonesia atau BRI menyediakan akses pembukaan deposito dengan setoran awal mulai dari Rp 1 juta melalui layanan perbankan internet, dan Rp 10 juta jika nasabah melakukan pembukaan melalui unit kerja fisik.

Hingga Mei 2026, BRI tercatat menawarkan imbal hasil yang cukup menarik, khususnya untuk penempatan dana jangka pendek. Untuk tenor 1 bulan, suku bunga yang diberikan berkisar antara 3,25%-3,35%, bergantung pada nominal simpanan.

Suku bunga tertinggi ditawarkan pada tenor 3 bulan yang mencapai 3,50% secara merata. Selanjutnya, untuk jangka waktu menengah hingga panjang, yakni 6, 12, 24, hingga 36 bulan, BRI menetapkan suku bunga konstan pada level 3,00%.

Deposito BRI juga bisa diakses di aplikasi BRImo dengan minimal deposito Rp1.000.000 dengan jangka waktu 1 bulan (suku bunga 3% per tahun), 3 bulan (suku bunga 3% per tahun), 6 bulan (suku bunga 2,75% per tahun), 12 bulan (suku bunga 2,5% per tahun), dan 24 bulan (suku bunga 2,5% per tahun).

Cara deposito di aplikasi BRImo bisa melalui fitur investasi dan pilih menu deposito. Buka akun deposito dan kemudian masukan setoran deposito yang diinginkan. Selanjutnya pilih jangka waktu kemudian mulai investasi dengan BRImo.

(ras/ras)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |