Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China resmi mengagendakan kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Korea Utara pada awal pekan depan. Hal itu menjadi perhatian dunia karena merupakan lawatan resmi pertama sang presiden ke Pyongyang dalam kurun waktu hampir tujuh tahun terakhir.
Melansir BBC International, Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young menilai rencana kunjungan tersebut membawa pesan penting bagi arah politik luar negeri di kawasan Semenanjung Korea. Dia berharap pertemuan antara dua pemimpin negara tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pemulihan hubungan diplomatik yang sempat buntu.
Nantinya, Xi Jinping dijadwalkan berada di Korea Utara pada tanggal 8 hingga 9 Juni 2026 guna memenuhi undangan resmi dari Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un. Pertemuan tersebut berlangsung hanya berselang beberapa minggu setelah Presiden Xi menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing.
China sendiri merupakan mitra ekonomi dan politik vital bagi Korea Utara yang hingga kini masih terbebani oleh berbagai sanksi internasional terkait program nuklirnya. Secara historis, kedua negara diikat oleh pakta pertahanan yang menjamin dukungan keamanan timbal balik, di mana tahun ini menandai peringatan ke-65 dari perjanjian tersebut.
Melalui kunjungan tersebut, pihak Pyongyang berharap dapat mengamankan komitmen peningkatan kerja sama perdagangan lintas batas guna memulihkan sektor pariwisata domestik mereka.
Selain isu ekonomi, dunia internasional juga menanti peran Tiongkok sebagai mediator dalam isu denuklirisasi di Semenanjung Korea. Meskipun posisi Beijing cenderung melunak dalam beberapa tahun terakhir, komitmen mengenai penghapusan senjata nuklir tetap menjadi poin utama yang dibahas saat pertemuan Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bulan lalu.
Di sisi lain, Korea Utara justru mengklaim telah berhasil melipatgandakan kapasitas produksi bahan nuklir tingkat senjata dalam lima tahun terakhir. Situasi tersebut menambah kompleksitas agenda diplomasi Xi Jinping di tengah upaya menjaga keseimbangan pengaruh antara aliansi Rusia dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Asia Timur.
(haa/haa)
Addsource on Google

3 hours ago
5

















































