Krisis Baru Dimulai: Dari Energi ke Pangan, Dunia Masuk Zona Bahaya

10 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

27 March 2026 09:55

Jakarta, CNBC Indonesia- Eskalasi konflik Iran mulai merambat ke komoditas yang jarang disorot pasar luas, pupuk.

Gangguan di Selat Hormuz jalur vital perdagangan global menghambat distribusi produk pupuk dalam skala besar, memicu lonjakan harga dan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan dunia.

Sekitar sepertiga perdagangan pupuk global berbasis laut melewati Selat Hormuz. Jalur ini kini mengalami disrupsi berat sejak konflik memanas, dengan lalu lintas kapal nyaris berhenti dan sejumlah insiden serangan terhadap kapal di kawasan tersebut. Hambatan ini langsung menahan arus ekspor dari kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi pusat produksi pupuk nitrogen dunia.

Melansir CNBC Internasional, harga mulai bereaksi cepat. Urea granular FOB di Mesir acuan utama pasar pupuk nitrogen melonjak ke kisaran US$700 per metrik ton, dari sebelumnya US$400-490 sebelum perang.

Oxford Economics mencatat harga urea naik sekitar 50% sejak konflik dimulai, sementara amonia meningkat sekitar 20%. Kenaikan juga terjadi pada potash dan sulfur, memperluas tekanan ke seluruh rantai pupuk.

Struktur pasok global memperparah situasi. Sekitar 30% suplai ekspor pupuk saat ini tidak bisa menjangkau pasar, termasuk dari Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Iran. Iran sendiri memegang peran penting dalam ekspor pupuk nitrogen global, dengan kontribusi signifikan terhadap perdagangan urea dunia.

Ketika jalur distribusi tersumbat, pasokan yang hilang langsung terasa di pasar internasional.

Mengancam Musim Tanam

Dampaknya mulai menyentuh sektor pertanian di waktu yang krusial. Petani di belahan bumi utara memasuki musim tanam, sementara di selatan sedang dalam fase panen. Kebutuhan pupuk nitrogen meningkat tajam pada periode ini. Urea digunakan luas untuk komoditas utama seperti jagung, gandum, dan berbagai tanaman hortikultura.

Secara teknis, nitrogen memiliki peran yang tidak tergantikan dalam siklus tanam tahunan. Berbeda dengan potash atau fosfat yang masih bisa ditunda penggunaannya dalam satu musim, nitrogen harus tersedia setiap tahun. Ketika distribusi tersendat, hubungan langsung antara aplikasi pupuk dan hasil panen menjadi terganggu. Penurunan pasokan hari ini membuka risiko penurunan produktivitas beberapa bulan ke depan.

Tekanan ini dinilai lebih luas dibandingkan krisis Rusia-Ukraina pada 2022. Saat itu, gangguan terutama terjadi pada potash. Kini, gangguan menyasar nitrogen-komponen inti dalam pertumbuhan tanaman. Selain itu, dampaknya mencakup lebih banyak negara produsen sekaligus, mulai dari Iran hingga negara Teluk lainnya.

Pasar sulfur turut memperburuk keadaan. Hampir 50% perdagangan sulfur global berasal dari kawasan yang sama. Sebelum konflik, pasar sulfur sudah dalam kondisi ketat dengan harga yang sempat mencapai puncak di awal tahun. Gangguan produksi dan ekspor mempersempit pasokan lebih jauh, membuka ruang kenaikan harga lanjutan.

Produksi pupuk juga ikut terganggu dari sisi hulu. Keterbatasan penyimpanan untuk produk yang tidak bisa dikirim memaksa beberapa fasilitas menghentikan operasi. QatarEnergy bahkan menghentikan produksi urea setelah menghentikan produksi LNG. Di sisi lain, China mulai membatasi ekspor pupuk untuk menjaga pasokan domestik, memperkecil alternatif suplai global.

Meski stok pangan global memasuki 2026 dalam kondisi relatif tinggi, buffer ini hanya bersifat sementara. Penurunan hasil panen sekitar 5% saja sudah cukup mendorong inflasi pangan. Negara berkembang menjadi pihak paling rentan karena keterbatasan daya beli terhadap harga pupuk dan pangan yang meningkat.

India dan kawasan Afrika Timur disebut memiliki eksposur tinggi. Ketergantungan pada impor pupuk dan gas membuat biaya produksi pertanian di wilayah ini lebih sensitif terhadap gejolak harga. Dalam kondisi harga tinggi, akses terhadap pupuk bisa menjadi terbatas, memaksa petani mengurangi penggunaan dan menurunkan hasil panen.

Dampak juga menjalar ke negara maju. Amerika Serikat, meski memiliki produksi domestik, tetap mengimpor sekitar sepertiga kebutuhan pupuknya. Kenaikan harga global langsung menekan biaya produksi petani. Kekhawatiran mulai muncul terkait kemungkinan distribusi yang tidak merata atau kebutuhan rasionalisasi penggunaan pupuk.

Sejumlah kelompok pertanian di AS telah meminta intervensi pemerintah untuk meredam tekanan biaya. Mereka menilai lonjakan harga energi dan pupuk di tengah musim tanam menciptakan tekanan ganda bagi sektor pertanian. Gangguan logistik di Selat Hormuz menjadi faktor yang mempercepat transmisi tekanan tersebut ke harga pangan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |