Nvidia Mau Ubah Karyawan jadi 'Mandor' AI

5 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia — Perusahaan teknologi di Silicon Valley kini mulai menawarkan insentif baru bagi para insinyur selain gaji tinggi, yakni token kecerdasan buatan (AI). CEO Nvidia Jensen Huang mengungkapkan ide pemberian anggaran token sebagai tambahan kompensasi untuk meningkatkan produktivitas karyawan.

Melansir CNBC, Huang menjelaskan bahwa token AI, yang merupakan unit data untuk menjalankan sistem dan alat otomatisasi, dapat digunakan insinyur untuk mengoperasikan agen AI dalam menyelesaikan pekerjaan. Ia menyebut skema ini mulai menjadi salah satu alat rekrutmen baru di Silicon Valley, dengan nilai token bahkan bisa mencapai setengah dari gaji pokok insinyur.

Menurut Huang, ke depan para insinyur akan bekerja dengan bantuan ratusan ribu agen AI yang mampu menyelesaikan tugas kompleks secara mandiri. Ia bahkan menyebut bahwa Nvidia yang memiliki sekitar 42.000 karyawan manusia nantinya akan didampingi oleh ratusan ribu "karyawan digital".

Gagasan ini muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya dampak AI terhadap lapangan kerja, khususnya pekerjaan kerah putih. Pendiri Oaktree Capital Management Howard Marks menilai kemampuan AI yang kini dapat bertindak secara otonom menjadi pembeda utama yang berpotensi menggantikan tenaga kerja manusia.

Laporan Goldman Sachs memperkirakan AI dapat mengotomatisasi sekitar 25% jam kerja di Amerika Serikat dan meningkatkan produktivitas hingga 15%. Namun, hal ini juga berpotensi menyebabkan 6% hingga 7% pekerjaan tergantikan selama masa adopsi teknologi tersebut.

Ekonom senior Goldman Sachs Joseph Briggs menyebut bahwa risiko penggantian tenaga kerja bisa lebih besar jika AI terbukti lebih disruptif dibanding teknologi sebelumnya. Meski demikian, ia menekankan bahwa perubahan teknologi juga akan menciptakan jenis pekerjaan baru di masa depan.

Huang justru melihat perkembangan agen AI sebagai pendorong permintaan perangkat lunak, bukan sebaliknya. Ia menilai semakin banyak agen AI yang digunakan, maka kebutuhan akan infrastruktur, program, dan sumber daya komputasi akan meningkat pesat.

Presiden perusahaan teknologi CI&T Bruno Guicardi menyebut perubahan ini sebagai pergeseran paradigma dalam industri perangkat lunak. Ia mengatakan para insinyur kini dapat memberi instruksi kepada komputer menggunakan bahasa sehari-hari, sehingga pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari.

Meski demikian, pasar tenaga kerja menghadapi "paradoks talenta" di mana perusahaan ingin mengurangi jumlah karyawan sekaligus kesulitan mencari tenaga kerja yang memiliki keterampilan AI. Konsultan Mercer Lewis Garrad menyebut sekitar 98% eksekutif memperkirakan AI akan mengurangi tenaga kerja dalam dua tahun ke depan, sementara 54% masih menghadapi kelangkaan talenta.

Peran entry-level dinilai paling rentan tergantikan karena banyak tugas dasar kini dapat diotomatisasi oleh AI. Pendiri Intelligence Briefing Andreas Welsch menambahkan bahwa pekerjaan seperti analisis data, pemrosesan dokumen, dan penyusunan laporan awal menjadi yang paling berisiko terdampak.

Namun demikian, integrasi AI ke dalam operasional perusahaan juga tidak mudah, dengan sekitar 80% hingga 85% proyek AI sejak 2018 dilaporkan gagal. Welsch mengingatkan bahwa penggunaan agen AI secara masif justru dapat menimbulkan lebih banyak masalah jika tidak diimplementasikan dengan tepat.

(mkh/mkh)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |