Sosok Pencipta 'Saham Gorengan' yang Bikin Banyak Investor Boncos

6 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena 'saham gorengan' yang kerap membuat investor ritel merugi ternyata bukan cerita baru dalam sejarah pasar keuangan dunia. Ternyata 'penggoreng saham' paling awal adalah perusahaan Inggris bernama South Sea Company, yang menciptakan salah satu gelembung saham terbesar dalam sejarah. Kejadian ini terjadi lebih dari 300 tahun yang lalu.

South Sea Company didirikan dengan tujuan membantu pemerintah mengelola utang negara yang membengkak akibat berbagai peperangan. Sebagai imbalannya, perusahaan memperoleh hak monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan yang saat itu berada di bawah kekuasaan Spanyol.

Di atas kertas, peluang bisnis tersebut terlihat sangat menjanjikan. Banyak investor percaya perusahaan akan meraup keuntungan besar dari perdagangan emas, perak, rempah-rempah, hingga budak. Harapan tersebut membuat saham South Sea Company menjadi primadona di pasar modal Inggris.

Namun kenyataannya berbeda. Aktivitas perdagangan perusahaan jauh dari ekspektasi karena berbagai hambatan politik dan perang antara Inggris dengan Spanyol. Meski bisnis inti tidak berkembang signifikan, harga saham perusahaan justru terus melonjak karena spekulasi yang semakin liar.

Kejadian ini terjadi pada tahun 1720 ketika Inggris berada dalam kondisi keuangan rapuh setelah melewati perang panjang dan mahal melawan kekuatan Eropa. Utang negara membengkak, sementara pemasukan terbatas. Dalam situasi itu, pemerintah melahirkan South Sea Company.

Menurut situs Britannica, dalam menjalankan kepengurusan, perusahaan ini diberi hak istimewa untuk mengambil alih dan mengelola utang negara. Sebagai imbalannya, perusahaan ini dijanjikan monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan yang kala itu dikenal kaya sumber daya.

Dari sini banyak orang percaya perusahaan akan melesat di masa depan dan memberi keuntungan luar biasa. Apalagi, setelah pemerintah turut membeli legitimasi. Alhasil, banyak rakyat biasa, anggota parlemen, bangsawan, hingga Raja Inggris, George I, memiliki saham. Namun, mereka tidak diberi tahu pengurus kalau wilayah Amerika Selatan tak dikuasai Inggris, tetapi Spanyol. Secara teori, perusahaan akan kesulitan berkembang.

Euforia menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Orang-orang berlomba membeli saham karena takut ketinggalan peluang. Akibatnya, harga saham naik bukan karena laba atau kinerja, melainkan karena keyakinan akan selalu ada pembeli berikutnya. Inilah pom-pom dalam bentuk paling awal.

Yang tidak diketahui, di balik hiruk-pikuk itu, para petinggi South Sea Company justru mulai menjual saham mereka secara diam-diam. Mereka tahu fondasi bisnis perusahaan rapuh dan janji keuntungan sulit terwujud. Ketika sebagian investor mulai mempertanyakan sumber laba yang sebenarnya, kepercayaan pun runtuh. Kepanikan menyebar cepat. Harga saham jatuh bebas, dan pasar ambruk hampir seketika.

Melansir Royal Society Publishing, dampaknya membuat ribuan orang kehilangan seluruh tabungan hidupnya. Banyak bangsawan dan pengusaha jatuh miskin dan bangkrut dalam semalam. Salah satu korban terkenalnya adalah Isaac Newton. Dia sempat meraih keuntungan. Sayang, kembali masuk saat harga sudah terlalu tinggi dan akhirnya menanggung kerugian besar. Newton kemudian menyimpulkan dia mampu menghitung gerak benda langit, tetapi tidak kegilaan manusia.

Penyelidikan pemerintah kemudian membuka skandal besar. Terungkap praktik suap, konflik kepentingan, dan manipulasi pasar yang melibatkan elite politik. Sejumlah pejabat dihukum, sementara kepercayaan publik terhadap negara dan pasar modal runtuh. Kejadian inilah yang kemudian dikenal sebagai praktik menggoreng saham pertama di dunia. Sayangnya, praktik demikian tak pernah benar-benar berhenti.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |