Dekarbonisasi Industri, RUEN 2026-2035 Butuh Prioritas Sektor dan Kejelasan Investasi

2 hours ago 2

loading...

Dua teknisi memeriksa panel surya yang terpasang di atap gedung di Jakarta, Sabtu (10/5/2025). FOTO/Arif Julianto

JAKARTA - Pemerintah didorong mengunci arah dekarbonisasi industri dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) 2026–2035 dengan memperkuat kepastian regulasi, infrastruktur, pembiayaan, dan penentuan sektor prioritas. Kejelasan arah tersebut dinilai penting agar transisi energi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga daya saing industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha mengatakan pencapaian target dekarbonisasi tidak dapat hanya mengandalkan peningkatan pasokan energi bersih, tetapi harus diikuti kepastian permintaan dari sektor pengguna. "Kita tidak boleh hanya berbicara tentang suplainya saja, kita genjot, kita bangun, itu harus ada demand yang confirmed," katanya dalam forum dialog "Mengunci Dekarbonisasi Industri dalam Rencana Umum Energi Nasional" dikutip pada Jumat (27/8/2026).

Baca Juga: Prabowo Resmi Luncurkan Proyek PLTS Kapasitas 100 GWp di Bali

Menurut Satya, keseimbangan antara pasokan dan permintaan energi juga penting untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi karena ekspansi industri, jasa, dan sektor ekonomi lainnya akan menciptakan kebutuhan energi. Ia menilai target pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt peak (GWp) yang didorong Presiden Prabowo Subianto dapat dimasukkan sebagai akselerasi dalam RUEN tanpa mengubah skenario dasar yang telah disusun.

Director of Legal Affairs Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Zakiul Fikri menilai persoalan utama dalam agenda dekarbonisasi adalah memperkecil kesenjangan antara perencanaan dan implementasi. "Yang sebetulnya yang ingin saya sampaikan, kita perlu menutup kesenjangan antara perencanaan dan implementasi," ujarnya.

Zakiul mengatakan RUEN juga perlu menetapkan skala prioritas sektor industri yang akan menjalani dekarbonisasi karena setiap sektor memiliki karakteristik dan tingkat kesulitan transisi yang berbeda. Menurut dia, keberhasilan dekarbonisasi tidak cukup diukur dari kapasitas energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga dari seberapa besar penggunaan energi fosil dan emisi industri dapat dikurangi.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |