Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?

20 hours ago 7

loading...

Bagi sebagian masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap atau masih dipercaya sebagai bulan yang buruk untuk mengadakan hajatan pernikahan. Foto ilustrasi/ist

Larangan menikah di bulan Muharram bagi sebagian kalangan terutama masyarakat di Pulau Jawa sangat ditabukan, terutama di bulan Suro atau hari Asyura (hari ke-10 bulan Muharram). Sebab, Bulan Suro dianggap atau masih dipercaya sebagai bulan yang buruk untuk mengadakan hajatan pernikahan. Benarkah demikian? Bagaimana Islam memandang hal ini?

Istilah Suro berasal dari 'Asyura (bahasa Arab) yang artinya kesepuluh (maksudnya tanggal 10 bulan Suro). Istilah ini kemudian dijadikan sebagai bulan permulaan hitungan dalam takwim Jawa. Orang Jawa menyebutnyaSuro. Sementara dalam Islam, istilah Suro adalah bulan Muharram , bulan pertama dalam Kalender Hijriyah .

Muharam adalah bulan yang telah lama dikenal sejak pra Islam dan termasuk bulan haram yang dimuliakan Allah. Kemudian Khalifah Umar Bin Khattab menjadikan penanggalan Hijriyah (Islam) diawali dari bulan Muharram.

Dalam satu kajiannya,Gus Muwafiq mengatakan, orang Jawa memang punya banyak larangan saat bulan Suro. Mereka tidak berani mantu, senang-senang, bahkan sampai pindah rumah.

Baca juga: Doa Memasuki Tahun Baru Islam, Jangan Lupa Diamalkan!

"Ini orang yang terkadang salah paham. Orang Jawa ini paling takhayul. Orang yang paling percaya dengan barang-barang yang bikin orang musyrik. Buktinya apa, masak pas bulan Asyura (Suro)enggakberani menikah. Malah orang Jawa mempercayai kalau Nyi Roro Kidul mantu," kata Gus Muwafiq dalam-ceramahnya ditayangkan Channel Ulama Nusantara lewat Youtube.

Gus Muwafiq mengatakan memang ada peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Suro (Muharram). Muharram dianggap sebagai bulan duka karena tanggal 10 Asyuro, pasukan Yazid melakukan pembantaian terhadap cucu-cucu Rasulullah SAW.

Seluruh umat Islam pun berduka karena pembantaian sadis itu. Sejak itulah, orang Islam di seluruh dunia, bahkan masyarakat Jawa menjadikan bulan Suro sebagai bulan duka atau bulan belasungkawa.

"Jadi tidak ada kaitannya dengan Nyi Roro Kidul mengadakanpesta pernikahan," kata Gus Muwafiq.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |