Perjuangan Safari Wukuf, Saat Petugas Haji Menjadi Anak bagi Para Lansia

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Terik sinar matahari maupun teduh cahaya bulan jadi latar langkah kaki para petugas. Di antara kamar-kamar, mereka memastikan satu per satu jemaah haji lansia dalam kondisi aman.

Ada yang membutuhkan bantuan untuk bangun, ada yang harus diingatkan minum obat, ada pula yang hanya membutuhkan seseorang untuk menemani agar tidak merasa sendiri. Bagi para petugas layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 5 Daerah Kerja (Daker) Makkah, hari-hari dalam mendampingi jemaah lansia bukan sekadar menjalankan tugas.

Ada tanggung jawab besar untuk memastikan mereka yang telah menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci tetap mampu menunaikan seluruh rukun haji. Perjalanan itu mencapai salah satu titik paling penting melalui layanan Safari Wukuf Lansia (SWL), program pendampingan khusus bagi jemaah lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih selama puncak haji.

Dari Sektor 5 Makkah, sebanyak 38 jemaah lansia mendapatkan pendampingan khusus. Mereka dirawat oleh sembilan pelaksana Landis bersama tiga petugas kesehatan yang berjaga memastikan kebutuhan fisik dan ibadah mereka terpenuhi.

Selama masa pendampingan, petugas hadir sejak pagi hingga malam. Mereka membantu jemaah mandi, menyiapkan makan, mendampingi salat, menemani mengaji dan berdzikir, serta memastikan kondisi mereka tetap terpantau ketika waktu istirahat tiba.

Bagi Muhammad Rosy, Pelaksana Landis Sektor 5 Daker Makkah, pengalaman itu menjadi salah satu fase paling menguras tenaga, sekaligus meninggalkan kesan paling dalam selama bertugas di Tanah Suci.

“Selama lima sampai sepuluh hari, beliau-beliau kami rawat,” kata dia pada tim Media Center Haji di Makkah, Rabu, 17 Mei 2026.

Pengawasan Intensif

Kewaspadaan tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap malam, petugas melakukan pengecekan berkala untuk memastikan tidak ada jemaah yang tidak terlayani kebutuhannya.

Sebab, sebagian lansia yang didampingi memiliki kondisi khusus, termasuk demensia yang membuat mereka membutuhkan pengawasan lebih intensif.

“Ada beberapa lansia yang memang tidak bisa melakukan apa-apa setelah berbaring. Jadi ketika membutuhkan bantuan, kita harus selalu siap,” ujarnya.

Bagi petugas, menjaga mereka bukan hanya tentang memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, namun juga menjaga rasa aman di tengah kondisi yang asing bagi para lansia.

Beberapa jemaah dengan demensia memiliki perilaku yang tidak mudah diprediksi. Ada yang berjalan tanpa tujuan, lupa kamar, hingga tidak menyadari kondisi sekitar.

Rosy masih mengingat bagaimana petugas harus menghadapi situasi ketika seorang jemaah tiba-tiba ingin keluar kamar pada malam hari.

“Ketika ditanya mau ke mana, jawabannya ‘saya mau pulang’. Ada juga yang sudah keluar kamar lalu tidak tahu kamarnya sendiri,” tuturnya.

Berbagai Kisah Personal

Kondisi seperti itu membuat petugas harus memiliki kesabaran ekstra. Di balik tantangan berat tersebut, ada banyak momen yang membuat para petugas terharu.

Salah satunya ketika melihat jemaah lansia yang sebelumnya membutuhkan banyak bantuan akhirnya mampu menjalankan ibadah dengan baik.

Abdul Aziz, Pelaksana Landis lainnya, mengatakan Safari Wukuf Lansia menjadi puncak dari seluruh rangkaian pelayanan yang mereka lakukan selama dua bulan masa tugas.

“Ini merupakan puncak ikhtiar kami selama di sini. Kita harus memastikan semua lansia bisa mendapatkan haknya untuk melaksanakan rukun haji, sehingga hajinya bisa berjalan dengan baik dan kembali ke Tanah Air dengan selamat,” ujarnya.

Dalam perjalanan mendampingi jemaah, petugas juga menemukan banyak kisah personal. Ada jemaah yang membutuhkan bantuan minum obat secara rutin, ada yang harus didampingi karena kondisi kesehatan tertentu, hingga mereka yang membutuhkan bantuan untuk aktivitas paling pribadi.

Bagi sebagian jemaah, menerima bantuan dari orang yang bukan keluarga bukan hal mudah. Rasa malu sempat muncul ketika harus dibantu mandi atau membersihkan diri.

Air Mata Tak Hanya Tanda Kesedihan

Namun, hubungan itu perlahan berubah. Perhatian yang diberikan setiap hari membuat jemaah mulai percaya dan merasa nyaman.

“Awalnya mereka malu karena kita baru kenal. Tapi setelah beberapa hari, mereka sudah terbuka. Kita ngobrol, bercanda, dan mereka cerita tentang keluarga di rumah,” kata Aziz.

Kedekatan itu pula yang membuat perpisahan menjadi momen emosional. Setelah hari-hari panjang bersama, para jemaah tidak lagi melihat petugas sebagai orang asing.

Sania Laili Khusnia, Pelaksana Landis Sektor 5 Daker Makkah, merasakan hal serupa ketika mendampingi jemaah lansia secara penuh waktu selama SWL.

Menurutnya, kebersamaan selama berhari-hari membuat ikatan antara petugas dan jemaah tumbuh begitu kuat.

“Ketika kepulangan, kita sudah mulai bonding selama sembilan hari. Mereka mulai cerita punya anak, punya cucu. Saat pulang, banyak yang minta peluk dan mengucapkan terima kasih,” ujar Sania.

Bagi para petugas, air mata yang jatuh saat perpisahan bukan sekadar tanda kesedihan. Itu menjadi bukti bahwa pelayanan yang diberikan telah membangun hubungan kemanusiaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar tugas.

Di antara panasnya Tanah Suci dan beratnya amanah yang dipikul, para petugas menemukan makna lain dari pengabdian: menjadi tangan yang membantu, menjadi telinga yang mendengar, dan menjadi keluarga sementara bagi mereka yang membutuhkan.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |