Siksa Kubur, Apakah Menimpa Ruh atau Jasad? Berapa Lama Berlangsungnya?

3 hours ago 2

loading...

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa ruh terkadang masih memiliki hubungan dengan jasad, karena itu, kenikmatan maupun siksa di alam kubur dapat dirasakan oleh ruh dan jasad secara bersamaan.. Foto ilustrasi/ist

Alam kubur atau barzakh merupakan fase kehidupan yang akan dilalui setiap manusia setelah meninggal dunia sebelum datangnya Hari Kiamat. Dalam fase ini, seseorang dapat memperoleh kenikmatan atau mengalami siksa sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup di dunia. Lantas, apakah kenikmatan dan siksa kubur hanya dirasakan oleh ruh, atau juga menimpa jasad?

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam kitab Fatawa 'Anil Iman wa Arkaniha, yang disusun Abu Muhammad Asyraf bin Abdul Maqshud, menjelaskan bahwa pada dasarnya azab kubur menimpa ruh. Sebab, setelah seseorang meninggal dunia, hukuman yang diterimanya berkaitan dengan kehidupan ruh.

Sementara itu, jasad manusia setelah kematian berubah menjadi bangkai yang rapuh. Jasad tidak lagi membutuhkan makanan dan minuman untuk mempertahankan kehidupannya, bahkan secara perlahan akan dimakan tanah.

Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa ruh terkadang masih memiliki hubungan dengan jasad. Karena itu, kenikmatan maupun siksa di alam kubur dapat dirasakan oleh ruh dan jasad secara bersamaan.

Pendapat mengenai persoalan ini memang beragam di kalangan Ahlus Sunnah. Ada pula ulama yang berpandangan bahwa siksa dan nikmat kubur menimpa jasad, bukan ruh. Pandangan tersebut antara lain didasarkan pada sejumlah kejadian yang diklaim terjadi ketika kuburan dibongkar. Dalam beberapa kasus, disebutkan ditemukan kondisi jasad yang masih menunjukkan keadaan tertentu meskipun telah lama dikuburkan.

Baca juga: 3 Macam Najis dalam Islam dan Cara Menyucikannya, Muslim Wajib Tahu

Al-Utsaimin bahkan menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi di daerah Unaizah, Arab Saudi. Saat dilakukan penggalian untuk membuat benteng pembatas wilayah, sebagian area penggalian ternyata bertepatan dengan sebuah kuburan.

Liang lahat tersebut akhirnya terbuka. Di dalamnya ditemukan jasad yang kain kafannya telah dimakan tanah, tetapi tubuhnya masih dalam keadaan utuh dan kering. Bahkan, orang-orang yang berada di lokasi tersebut disebut masih dapat melihat jenggot mayat tersebut. Dari jasad itu juga tercium aroma harum seperti minyak misk.

Para pekerja kemudian menghentikan penggalian dan mendatangi seorang syekh untuk meminta petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan.
Syekh tersebut kemudian memberikan nasihat agar posisi kuburan dibiarkan sebagaimana adanya. “Biarkan dalam posisi sebagaimana adanya. Hindarilah ia dan galilah dari sebelah kanan atau sebelah kiri,” demikian nasihat tersebut sebagaimana dikisahkan Al-Utsaimin.

Menurut Al-Utsaimin, peristiwa semacam itu menjadi salah satu alasan ulama menjelaskan bahwa ruh terkadang masih berhubungan dengan jasad. Dengan demikian, siksa ataupun kenikmatan kubur dapat dirasakan oleh keduanya.

Hal ini juga dikaitkan dengan sabda Rasulullah yang menjelaskan keadaan orang kafir di dalam kubur. Disebutkan bahwa kubur akan menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya remuk. Keterangan tersebut menunjukkan adanya siksa yang berkaitan dengan jasad, karena tulang rusuk merupakan bagian dari tubuh manusia.

Berapa Lama Siksa Kubur Berlangsung?

Pertanyaan berikutnya adalah sampai kapan kenikmatan atau siksa kubur berlangsung? Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Ar-Ruh menjelaskan bahwa siksa kubur terbagi menjadi dua macam. Pertama, siksa yang berlangsung terus-menerus hingga datangnya Hari Kiamat.

Salah satu dalil yang digunakan adalah firman Allah SWT:

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |