Perbedaan Haji dan Umrah dalam Tata Cara Ibadah

1 month ago 33

Liputan6.com, Jakarta - Ibadah Haji dan Umrah adalah dua ritual suci dalam Islam yang memiliki persamaan fundamental pada inti ibadahnya, yaitu penguatan tauhid dan pembersihan dosa. Keduanya juga mesnyaratkan istithaah, yang berarti memiliki kemampuan yang mencakup finansial, kesehatan dan keamanan diri.

Imam Ghazali Said, dalam panduan manasik Haji Rasulullah mengingatkan, persiapan batin yang sama-sama ikhlas sangat ditekankan pada kedua ibadah ini.

Namun, ada perbedaan mendasar di antara kedua ibadah ini. Pertama adalah mengenai hukumnya. Sedangkan perbedaan kedua adalah dari tata cara ibadahnya.

Perbedaan haji dan umrah dalam tata cara ibadah terletak pada rukun dan wajib haji dan umrah. Meski mirip, namun ada beberapa rukun dan wajib haji yang tak menjadi rukun dan wajib umrah.' Berikut rincian lengkapnya.

Perbedaan Rukun Haji dan Umrah

Rukun adalah fondasi ibadah. Jika salah satu rukun terlewat, haji atau umrah secara keseluruhan dianggap batal dan harus diulang. Merujuk buku Manasik Haji dan Umrah terbitan Kemenag RI dan Laman Badan Pengelola Keuangan Haji (BPIH), perbedaan haji dan umroh berikutnya terletak dari rukun dan rangkaian ibadahnya.

Rukun haji beberapa rangkaian ibadah, yaitu:

  • Ihram atau berniat untuk melaksanakan haji di Miqat. Bagi jemaah asal Indonesia maka dimulai dari Jeddah.
  • Wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga subuh tanggal 10 Dzulhijjah.
  • Thawaf Ifadhah, yaitu thawaf menuju Masjidil Haram dengan mengeliling Kabah sebanyak 7 kali putaran pertama dimulai dari arah Hajar Aswad dan Kabah berada di sisi kiri badan jemaah haji.
  • Sa’i atau berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke Marwah.
  • Tahallul atau mencukur rambut kepala minimal 3 helai rambut setelah rangkaian haji selesai.
  • Tertib.

Sementara rukun umrah tidak ada wukuf di Arafah. Berikut ini rukun ibadah umroh:

  • Ihram atau berniat memulai ibadah umrah.
  • Thawaf.
  • Sa’i antara bukit Shafa dan bukit Marwah.
  • Mencukur.
  • Tertib.

Wajib Haji dan Umrah

Wajib haji dan umroh merupakan serangkaian ritual manasik yang jika ditinggalkan tidak dapat membatalkan ibadahanya. Sebagai gantinya, jemaah diwajibkan menggantinya dengan denda (dam).

Pada haji terdapat 5 kewajiban, yaitu:

  • Niat ihram dari miqat.
  • Mabit atau menginap di Muzdalifah pada malam tanggal 10 Dzulhijjah.
  • Mabit atau menginap di Mina pada malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
  • Melempar jumrah.
  • Thawaf wada' atau perpisahan sebelum meninggalkan Makkah.

Sedangkan wajib umrah hanya terdiri dari 2 hal, yaitu:

1. Ihram

2. Menjauhi larangan ihram.

Perbedaan Niat Haji dan Umrah

Perbedaan terpenting lain yang perlu dipahami dan menjadi bagian rukun haji dna umrah adalah bacaan niatnya. Niat merupakan rukun kedua ibadah ini.

Niat Haji (Haji Ifrad atau Haji Tamattu')

Haji Ifrad dan Tamattu adalah ibadah haji tersendiri yang tak dilangsungkan dengan ibadah umrah, berbeda dengan qiran yang menyatukan keduanya dalam satu rangkaian.

Niat ini diucapkan pada tanggal 8 Dzulhijjah jika Anda melaksanakan Haji Ifrad (haji saja) atau saat memulai ritual haji dari Mina (setelah menyelesaikan umrah jika Anda Haji Tamattu').

نَوَيْتُ الْحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitul-Hajja wa Ahramtu bihi Lillāhi Ta‘ālā.

Artinya: "Aku niat berhaji dengan berihram karena Allah Ta'ala."

Niat Umrah

Niat ini diucapkan saat mulai Ihram di Miqat (baik untuk Umrah Mandiri maupun saat memulai rangkaian Haji Tamattu').

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitul-'Umrata wa Ahramtu bihā Lillāhi Ta‘ālā.

Artinya: "Aku niat berumrah dengan berihram karena Allah Ta'ala."

Perbedaan Hukum Umrah dan Haji

Hukum haji adalah wajib dan tergolong persoalan al-mujma alaihi al-malum min al-din bi al-dlarurah (yang disepakati hukumnya oleh seluruh mazhab dan diketahui oleh semua kalangan, baik orang awam dan khusus).

"Seseorang yang mengingkari kewajiban haji dihukumi murtad (keluar dari Islam), kecuali bagi orang yang sangat awam, jauh dari informasi keagamaan,". (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2: 206).

Sedangkan hukum umrah diperselisihkan ulama. Menurut pendapat al-adhhar (yang kuat) hukumnya wajib. Sementara menurut pendapat muqabil al-adhhar (yang lemah), hukum umrah adalah sunnah (Syekh Muhammad al-Zuhri al-Ghamrawi, al-Siraj al-Wahhaj, hal.151).

Dalam konteks Indonesia, kebanyakan ulama berpendapat bahwa umrah adalah sunnah muakad (sangat dianjurkan).

Perbedaan Waktu Pelaksanaan

Haji memiliki status Wajib dan terikat waktu yang sangat ketat (puncak pada 9 Dzulhijjah), menjadikannya ibadah kompleks dan menuntut ketahahanan fisik dan batin yang panjang.

Sementara, umrah memiliki status fleksibel dan bisa dilakukan kapan saja, menjadikannya ibadah yang lebih mudah diakses.

Hal ini dipengaruhi oleh 

Makna Ibadah Haji dan Umrah

Haji dan umrah adalah ibadah yang memiliki makna dan implikasi yang sangat mendalam, baik secara spiritual, sosial, maupun teologis.

Haji

• Puncak dari Ibadah dan Penyucian Diri:

Haji dianggap sebagai puncak perjalanan spiritual seorang Muslim (`Arkan al-Islam al-Khāmis). Dengan berdirinya jemaah di Arafah, yang disebut rukun terbesar haji (Al-Hajju Arafah), seorang Muslim merasakan momen pengampunan dosa total. Jemaah diharapkan kembali dalam keadaan suci dan bersih dari dosa (mabrur) seperti bayi yang baru dilahirkan.

• Simbol Persatuan Umat (Tauhid Sosial):

Haji adalah manifestasi paling nyata dari persatuan umat Muslim (ukhuwah Islamiyyah). Jutaan Muslim dari berbagai ras, bahasa, dan status sosial berkumpul di satu tempat, mengenakan pakaian ihram yang seragam, menegaskan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah. Ini adalah perwujudan praktis dari konsep Tauhid (keesaan Allah) di ranah sosial.

• Pengulangan Sejarah Kenabian:

Ritual haji adalah pengulangan kembali jejak sejarah keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad SAW, mulai dari keteguhan Hajar dalam Sa’i, pengorbanan Nabi Ibrahim dalam lempar jumrah, hingga pesan terakhir Nabi Muhammad SAW di Arafah. Ini memperkuat ikatan emosional dan historis Muslim dengan asal usul agama mereka.• II. Makna dan Signifikansi Ibadah Umrah.

Umrah

Umrah, meskipun memiliki status Sunnah Muakkadah (sangat dianjurkan) atau Wajib (tergantung mazhab), tetap membawa nilai spiritual yang tinggi dan sering disebut sebagai "Haji Kecil" (Al-Hajju al-Asghar).

• Kesempatan Memperbaiki Diri dan Memperkuat Iman:

Umrah memberikan peluang bagi seorang Muslim untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) dan menjauh dari kesibukan duniawi. Proses Tahallul (mencukur rambut) melambangkan pembaruan dan pelepasan diri dari dosa-dosa kecil yang telah diperbuat.

• Merasakan Kedekatan dengan Allah (Qurbah):

Melaksanakan Tawaf dan Sa’i, yang merupakan ritual inti Umrah, adalah bentuk ketaatan fisik yang menghasilkan kedekatan spiritual (qurbah) dengan Allah. Umrah sering dilakukan sebagai bentuk syukur atau permohonan (doa) kepada Allah di tempat yang mustajab (multazam dan Hijir Ismail).

• Pahala dan Penghapusan Dosa:

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya." Ini menegaskan signifikansi spiritual Umrah sebagai ritual pembersihan dosa yang dapat dilakukan berulang kali sepanjang tahun.

People also Ask:

Apa perbedaan ibadah haji dan ibadah umroh?

Perbedaan utama haji dan umroh terletak pada status hukum, waktu pelaksanaan, dan rukun ibadah; Haji adalah rukun Islam yang wajib (fardhu) sekali seumur hidup dan hanya bisa dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah, sementara umroh adalah sunnah (sunnah muakkadah) yang bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun, dan rukun umroh tidak mencakup wukuf di Arafah yang menjadi inti haji, menjadikannya 'haji kecil'.

Apakah umroh ada lempar jumrah?

Apakah Ibadah Umrah Ada Kewajiban Melempar Jumrah?Tidak, umroh tidak ada lempar jumrah, karena lempar jumrah adalah salah satu ritual wajib khusus untuk ibadah haji, sedangkan umroh hanya memiliki rukun dan kewajiban yang berbeda (ihram, tawaf, sa'i, tahallul). Lempar jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) adalah bagian penting dari manasik haji di Mina untuk melambangkan perlawanan terhadap godaan setan.

Bagaimana tata cara pelaksanaan haji dan umroh?

Tata cara Haji dan Umroh dimulai dengan Ihram (niat & pakaian khusus di miqat), dilanjutkan Tawaf (mengelilingi Ka'bah 7x), Sa'i (jalan antara Shafa-Marwah 7x), dan Tahallul (cukur/gunting rambut). Haji memiliki rukun tambahan seperti Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah & Mina, Melempar Jumrah, serta Tawaf Ifadah & Sa'i Haji (jika Tamattu'), yang tidak ada dalam Umroh. Intinya, Umroh adalah versi ringkas dari Haji, tanpa Wukuf dan Mabit, membuatnya bisa dilakukan kapan saja, sedangkan Haji terbatas pada bulan Dzulhijjah.

Yang mana lebih utama, haji atau umroh?

Secara hukum, Haji lebih utama karena merupakan rukun Islam yang wajib jika sudah mampu (istita'ah), sementara Umroh sunnah; namun, dalam praktiknya, Umroh bisa didahulukan jika menunggu antrean haji sangat panjang atau kondisi fisik lansia memburuk, karena Umroh menjadi solusi sambil menunggu haji dan bisa menjadi latihan spiritual, sebagaimana Nabi Muhammad SAW berumroh dulu sebelum haji, tapi tetap kewajiban haji tidak gugur.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |